Tampilkan postingan dengan label Jejak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak. Tampilkan semua postingan
Re-pos-ting...

“Naik - naik ke puncak gunung Tinggi - tinggi sekali Kiri kanan kulihat saja…..iephe dan rosyi ( he2)” saya kutip dari kotareyog.com salah satu postingan dari noersam yg menceritakan pendakiannya ke LAWU pada 16-17 Agustus 2008 kemarin.Ini ceritanya lain “Naik2 ke puncak gunung ….. kiri kanan TAK kulihat IEPE dan ROSYi “ Ya iyalah(masa ya iya dong… basi tau…) pada saat itu belum kenal sama mereka he he he.Oh ya jadi inget ma teman2 pas pendakian ke WILIS tahun 2002 yang kuingat Aziz ukin, Anteng, Hasan, Wasti, Yuda, Adri cah Goil, Bambang, Rahmat, Panji, Mandan yg sempat pingsan dan masih banyak lagi deh maaf ngk bias nyebutin satu persatu.



Eitttt jadi lupa mau ngapain he heh ini critanya pendakian ke Wilis menyusuri Rote Jendral Sudirman, suatu perjalanan yang panjang Dari Ponorogo-Wilis-Nganjuk memakan waktu kurang lebih sekitar 3 hari 2 malam.


Wilis jajaran pegunungan dengan ketinggian 2288 mdpl dengan posisi diantara lima kota yaitu madiun, nganjuk, kediri, trenggalek dan ponorogo. Dengan kondisi geografis semacam itu kita mencoba untuk menelusurinya melewati route Jendral Sudirman dengan mengambil start di pasar desa warung bung kec. Sooko. Sebenarnya ada beberapa jalur pendakian yang bisa dilalui, jalur barat dari madiun lewat dagangan-kare-kandangan. Jalur utara dari nganjuk lewat sawahan. tepatnya hari sabtu, 9 Februari 2002 adalah pendakian wajib yang diikuti oleh seluruh anggota muda angkatan X sebagai penerapan awal dari hasil Diklatsar kemarin. Di dampingi para anggota biasa yang saat itu kita semua berjumlah 24 personil dengan 16 cowok dan 8 cewek setelah diberangkatkan dari kampus sekitar pukul 9.30 dan memakan waktu 1 jam kita sampai di tempat start kemudian dimulailah perjalanan panjang tepat pukul 11.00 WIB.



Dengan jalur makadam pada + 3 Km pertama melalui perumahan penduduk, kita berjalan beriringan diselingi sendau gurau. Anteng & aziz ukin yang waktu itu sebagai leader mengawali perjalanan, memasuki kawasan hutan homogen dengan spesies tumbuhan pinus kita beristirahat setelah 1 jam perjalanan untuk melakukan sholat dzuhur. Rahmat dan Eri sebagai penyapu berjalan dengan santainya menikmati alam.

Kurang lebih 5 Km berikutnya kita mulai memasuki kawasan hutan heterogen dengan berbagai macam spesies tumbuhan. Elang spesies binatang yang kita lihat pertama saat itu, berputar-putar diawan seakan sedang mencari sasaran mangsa. Semakin kedalam kita masuk hutan heterogen yang sangat lebat dan pohon tinggi di dominasi oleh anggrek yang menempel indah. Terlihat pohon yang bergoyang disana sehingga membuat kita penasaran untuk mengamati dan ternyata beberapa komunitas kera penghuni hutan tersebut sedang bermain – main asyik, kita pun tetap meneruskan perjalanan. Dengan melewati beberapa mata air berhenti sejenak untuk membasuh muka serta menghilangkan dahaga.

Perjalanan 1 jam dalam hutan homogen dan 3 jam melalui hutan hiterogen kemudian baru kita masuk dalam perkebunan kopi yang sangat luas di daerah jeladri, kandangan masih termasuk kabupaten madiun. 2 jam berikutnya barulah kita sampai pada penduduk terakhir di desa seklayar dan disitulah kita beristirahat serta bermalam. Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam melalui jalur setapak, menerjang panas , hujan, kabut, dingin, kita sampai pada planing pertama yaitu desa seklayar yang merupakan penduduk terakhir sebelum puncak. 18.30 tepatnya waktu itu kita sampai, disambut dengan ramah oleh penduduk setempat, dipersilahkan beristirahat dirumah penduduk yang kosong sedang sebagian di mushola.

Pagi hari berikutnya, setelah packing, makan pagi dan bersosialisasi dengan penduduk setempat kita berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Di persimpangan jalur yang salah satunya menuju puncak dan yang lainya menuju air terjun sedudo, kita berhenti untuk meninggalkan carier dan hanya membawa perbekalan secukupnya, senter dan ponco. 2 personil Aziz dan Hengki menunggu barang tersebut dan mendirikan camp/bivouak juga perapian. Perjalanan menuju puncak masih memakan waktu 6 jam lagi sehingga barang bawaan perlu ditinggal. Hasan menjadi leader dan anteng menjadi penyapu, dengan menempuh medan yang sangat sulit, jalur panjang, tanjakan tetapi kita bersemangat untuk mencapai puncak. Dalam perjalanan ke puncak kita sempat beristirhat sebanyak tiga kali, yang pertama di bukit batu tulis karena disitu ada batu yang bertulis dan yang kedua di bukit berikutnya yang biasanya di sebut bukit putus asa, disebut demikian karena pendaki jaman dulu untuk mencapaii puncak serasa jauh dan nggak sampai-sampai padahal sudah melalui beberapa puncak namun di depannya masih ada puncak. Hingga pukul 15.30 akhirnya kita sampai di puncak liman Gunung Wilis, meskipun dalam keadaan hujan dan kabut serta udara dingin yang menusuk sampai ketulang. Setelah sampai di puncak kita langsung mengadakan upacara do’a dan pelantikan dari salah seorang dari teman kita yang tidak bisa dilantik bersama–sama pada waktu sebelumnya karena suatu hal.

Sewaktu dipuncak ada dua teman kita yang jatuh pingsan Panji dan Mandan, dan teman-teman lainnya merasa takut dan khawatir seandainya dengan kondisii yang demikian mereka tidak kuat untuk turun dari puncak, tapi syukur alhamdulillah beberapa menit kemudian keadaan mereka sudah pulih, haripun semakin sore dan berkabut. Pukul 16.30 tepat akhirnya kami turun, kali ini Bambang Jembing sebagai leader dan Hasan sebagai penyapu, keadaan sekiling kami menjadi gelap, dingin dan hujan dan jalanpun tak terlihat, satu persatu kami mengeluarkan senter kemudian perjalanan dilanjutkan, tiba-tiba ditengah perjalanan bambang berhenti karena jalur tidak terlihat kemudian Rahmat menggantikan Bambang sebagai leader, dan akhirnya pada pukul 23.30 kita pun sampai dibase camp dengan selamat, kita tidak menyangka telah melewati perjalanan yang sangat panjang, berliku dan melelahkan.

Hujan deras dan angin serta udara dingin yang menyelimuti kita dalam beristirahat di bivaouk bagi yang cowok sedang bagi cewek beristirihat dalam tenda Doom, karena tidak muat sebagian dari kita terpaksa tidur sambil duduk, tetapi karena rasa lelah dan capek kami bisa tertidur pulas.

Keesokan harinya merupakan hari ketiga, kita segera melanjutkan perjalanan kembali setelah melakukan packing dan persiapan, jam menunjuk pada pukul 08.30 kita meneruskan sisa perjalanan yang masih memakan waktu lebih dari 6 jam berangkat menuju lokasi air terjun sedudo Nganjuk. Dengan berjalan santai melewati hutan homogen dan heterogen menempuh jarak waktu 4 jam baru kita menemui perkampungan berbagai desa, sawah, perkebunan jeruk, perkebunan cengkeh, alpokat, taman bunga rose, bukit, jurang dan sungai dengan pemandangan yang sangat indah, sejuknya udara pegunungan. Dalam perjalanan yang jauh ini telah mengahbiskan logistik kita, ada yang menipis bahkan ada yang sudah habis, tapi alhamdulillah kita telah sampai pada perkampungan penduduk. Tak terasa lokasi yang dituju sudah berada didepan mata, sekitar pukul 15.00 akhirnya kita sampai dilokasi wisata air terjun sedudo, Nganjuk. Sesampainya disana kita langsung membersihkan diri, berganti pakaian dan sholat. Sekitar 2 jam kemudian, dirasa sudah cukup dalam menikmati suasana air tejun, kita meninggalkan lokasi wisata air terjun sedodo dengan transportasi truk kita menuju ke terminal Nganjuk, kemudian naik bus jurusan ponorogo. Perjalanan yang panjang dan jauh dengan menempuh jarak sekitar 60 km lebih ini terasa sangat singkat, dan tak terasa akhirnya kita telah sampai di Ponorogo ketika jarum jam menunjukkan pukul 20.00, dengan sambutan yang cukup hangat dari teman-teman di sekretariat yang telah menunggu kadatangan kita.

Assalamua’alaikum ……………… ?



Wa’alaikum Salam Warahmatullah ………. ?

I. SEJARAH PENELUSURAN GUA
Tidak ada catatan resmi kapan manusia menelusuri gua. Berdasarkan peninggalan-peninggalan berupa sisa-sisa makanan, tulang belulang, dan juga lukisan-lukisan yang dapat disimpulkan bahwa manusia sudah mengenal gua sejak puluhan tahun silam yang tersebar dibenua Eropa, afrika, dan Amerika. Menurut catatan yang ada, penulusuran gua dimulai oleh JOHN BEAUMOUNT, ahli bedah dari Somerest, England (1674). Ia ahli tambang dan Geologi amatir, tercatat orang pertama yang menulusuri gua sumuran (Potholing) sedalam 20 meter dan menemukan ruangan sebesar 80 meter serta ketinggian plafon 10 meter, dengan menggunakan penerangan lilin. Menurut catatan, Beamount merangkak sejauh seratus meter dan menemukan jurang (Internal Pitch). Ia mengikat tambang pada tubuhnya dan minta diulur sedalam 25 meter dan mengukur ruangan dalam gua tersebut. Ia melaporkan penemuan ini pada Royal Socioty, Lembaga Pengetahuan Inggris orang yang paling berjasa mendiskripsikan gua-gua antara tahun 1670-1680 adalah BARON JOHAN SALSAVOR dari Selvenia. Ia mengunjungi 70 gua, membuat peta sketsa, dan melahirkan empat buku setebal 2800 halaman. JOSEPH NAGEL, pada tahun 747 mendapat tugas dari istana memetakan system perguaan dikerajaan Austro-Hongaria

II. MACAM DAN JENIS GUA
Yang dimaksud gua adalah suatu celah yang terjadi akibat adanya suatu kekuatan alam
Gua memiliki 2 macam yaitu
1. Gua Horisontal
2. Gua vertical

[caption id="attachment_113" align="alignleft" width="306" caption="Gua Vertikal"]Goa Horizontal[/caption]

[caption id="attachment_114" align="alignleft" width="300" caption="Gua Horisontal"]Goa Horisontal[/caption]

Adapun jenis gua yaitu :
1. Gua batu Gamping

Adapun gua yang terjadi dari batuan gamping yaitu pada gunung-gunung kapur dan gua inilah umumnya banyak terdapat di Indonesia. Adapun terjadinya adalah akibat terjadinya celah atau rekahan dari batu gamping akibat adanya gaya endogen dari dalam bumi, celah yang telah terbentuk ini lama kelamaan semakin membesar akibat gaya mekanis yang terjadi dari tetesan air hujan dengan adanya proses kimiawi yang terjadi dan berlangsung terus menerus, maka akibatnya celah tersebut semakin dalam, akhirnya celah tersebut menjadi suatu lobang yang besar dan dalam, inilah yang disebut gua vertical atau potho, sedangkan kegiatan penelusuran gua tersebut biasanya disebut potholing


2. Gua Batu Pasir
Gua ini biasanya hanya terjadi pada daerah yang berpasir, dan karena sifat dari pasir yang tidak kompak, maka mengakibatkan gua yang terbentuk tidaklah tahan lama.

3. Gua Lava
Gua ini terbentuk akibat adanya letusan gunung berapi yang mengeluarkan lava. Gua ini terbentuk karena lava yang mengalir akibat letusan gunung berapi yang membeku pada bagian atasnya terlebih dahulu, akibat kontak langsung dengan udara bebas, sehingga pada bagian bawahnya masih berbentuk cair,kalau cairanlva tersebut terus mengalir maka maka akan membentu suatu celah atau gua. gua inilah yang disebut gua lava dan akibat gunung meletus tidak satu kali maka kemungkinan gua lava tersebut dapat bertingkat – tingkat.

4. Gua Ombak Laut/Absyal
Sesuai denan namanya maka gua hanya terjadi didaerah antai, adapun terjadinya yaitu akibat adanya proses erosi dan pengikisan dari air laut terhadap batuan yang berada dipantai yaitu pada tebing pantai yang curam, akibat adanya gaya mekanisme air laut maka lama – kelamaan batuan tersebut akan membentuk celah maka terjadilah gua. namun pada saat sekarang ini kemungkinan gua tersebut tidak dijumpai didaerah pantai, akibat adanya proses geologi, misalnya pengangkatan daratan yang seolah olah menjadi turun, namun pada umumnya gua tersebut tidak terlalu panjang/ dalam.

5. Gua Buatan
Yaitu gua yang terjadi karena dibuat manusia.

III. ORNAMEN GUA
Beberapa ornamen gua yang kita jumpai didalam gua, antara lain :
1. Stalaktit : ornamen yang tumbuh diatas gua / atap gua
2. Sodastraw : calon pembentuk stalaktit
3. Helektit : stalaktit yang bercabang/Ornamen gua yang berlawanan
dengan grafitasi bumi.
4. Stalakmit : ornamen yang tumbuh dari bawah ( kebalikan dari stalaktit )
5. Pilar : ornamen stalaktit dan stalakmit yang menyatu
6. Flow stone : aliran air melalui retakan atau bidang antar lapisan dinding
bagian gua
7. Gourdam : ornamen yang berada dilantai gua yang bangunannya
menyerupai pematang sawah
8. Mutiara gua : ornamen gua yang berasal dari hablur-ulang kalsit yang
melingkupi sebuah butiran pasir yang terdapat dibagian inti.
9. Draperties : aliran air melalui retakan atau bidang antar lapisan batuan
diatap gua
10.Canopy : ornamen gua yang dibentuk oleh air vadose yang mengalir
datas bongkahan batu.

[center][img]http://unting.t35.com/cavingor.jpg[/img][/center]
[center][b]Salah satu ornamen gua[/b][/center]

IV. ETIKA MORAL PENELUSURAN GUA




[caption id="attachment_115" align="alignleft" width="300" caption="Koordinasi itu penting"]Koordinasi itu penting[/caption]

Kelestarian lingkungan baik diluar maupun didalam gua merupakan
tanggung jawab kita. Kondisi dalam gua murni dan konstan udaranya. Saat para
caver melakukan exsplorasi gua tanpa disadari mereka telah memiliki andil dalam
upaya pengrusakan ekosistem hayati maupun non hayati dalam gua. Karena dengan masuknya para penelusur masuk pula berbagai virus, bakteri, jamur,
maupun parasit lainnya yang menempel pada mereka. Banyak hal yang dapat diupayakan untuk meminimalkan tindak pengrusakangua seperti :
1. Harus selalu kita camkan Motto :
Tidak mengambil sesuatu kecuali gambar ( TAKE NOTHING BUT PICTURE )
Tidak meninggalkan sesuatu kecuali jejak ( LEAVE NOTHING BUT FOOTPRINT)
Tidak membunuh sesuatu kecuali waktu ( KILL NOTHING BUT TIME )
2. Setiap penelusur gua sadar, bahwa setiap pembentukan alam didalam gua dibentuk dalam kurun waktu ribuan tahun.
3. Setiap penelusuran dan penelitian gua dilakukan dengan penuh RESPEK, tanpa mengganggu dan mengusir kehidupan Biota dalam gua.
4. Setiap penelusur gua menyadari bahwa kegiatan speleologibaik dari segi olah
raga atau ilmiahnya BUKAN USAHA YANG PERLU DIPERTONTONKAN DAN TIDAK BUTUH PENONTON.
5. Menelusuri gua harus disertai kesadaran, bahwa kesanggupan dan ketrampilan pribadi tidak usah dipamerkan. Namun sebaliknya tidak perlu kita tutupi dengan rasa malu.
6. Menunjukkan respek yang baik kepada sesama penelusur gua.

V. KEWAJIBAN PENELUSUR GUA

[caption id="attachment_116" align="alignleft" width="300" caption="pemetaan Gua"]pemetaan Goa[/caption]

Dunia speleologi diberbagai negara meneruskan himbauan kepada semua penelusur gua agar lingkungan gua tetap terjaga kebersihannya, kelestariannya
dan kemurniannya.
Seruan tersebut berupa :
1. Konservasi lingkungan gua harus menjadi tujuan utama kegiatan speleologi dan dilaksanakan sebaik baiknya oleh penelusur gua.
2. membersihkan gua dan lingkungannya merupakan kewajiban pertama para penelusur gua.
3. Apabila sesama penelusur gua membutuhkan pertolongan darurat setiap penelusur gua wajib memberi pertolongan.
4. setiap penelusur gua wajib menaruh respek terhadap penduduk sekitar gua.
5. Meminta ijin dari instansi yang berwenag dan merasa berkewajiban membuat laporan dan menyerahkannya pada instansi tersebut.
6. Bagian bagian gua wajib diberitahukan kepada penelusur lain.
7. Diberbagai negara, setiap musibah yang dialami penelusur gua wajib dilaporkan kepada sesama penelusur melalu media speleologi yang ada. Hal ni perlu supaya jenis musibah yang sama dapat dihindari.
8. Para penelusur gua wajib memperhatikan cuaca sebelum menelusuri gua.
9. Penelusur gua wajib melengkapi dirinya dengan perlengkapan dan wajib mengetahui tentang karakteristik, pemakaian, dan manfaat dari peralatan caving.
10.Bila terjadi musibah penelusur wajib bertindak dengan tenang, tidak panik dan patuh pada instruksi pimpinan penelusur.

VI. BAHAYA PENELUSURAN GUA
Dalam kegiatan speleologi dan penelusuran gua diklasifikasikan menjadi dua :
A. Antroposentrisme
B. Speleosentrisme
Antroposentrisme adalah bahaya yang dapat menimpa manusia sebagai pelaku kegiatan penelusur gua, terbagi lagi menjadi bahaya yang disebabkan oleh manusia itu sendiri dan bahaya yang disebabkan oleh gua sebagai media kegiatan penelusuran.

1. Faktor Manusia.
a. Ceroboh, sembrono, nekat
Kurang persiapan
Tidak menguasai tehnik dan peralatan
Terpeleset
Kepala terantuk batu, ornamen, dan atap gua
Tidak mematuhi etika moral dan kewajiban penelusur gua
b. Tersesat
Kurang pengamatan pada waktu masuk
Sumber cahaya habis
Terlalu lelah
Gua labirin dan bertingkat
c. Tenggelam
Tidak dapat berenang
Dapat berenang tapi sembrono
Cave diving
d. Salah dalam pengambilan team penelusur
[b]2. Faktor Peralatan[/b]
a. Berkurangnya kualitas peralatan
Tidak sesuai kemampuan
Pembagian beban tidak merata
Rusak ( terpakai, tersimpan, jatuh )
Friksi pada saat penggunaan
b. Penggunaan tidak semestinya
Terkena beban ungkit, beban bukan pada bidang yang direkomendasikan
Discending terlalu dalam, terlalu cepat
c. Beban berlebihan
Salah pemasangan lintasan
Tranfer barang
d. penyusutan tidak terkontrol
Penyimpanan
Penggunaan
Pencucian
2. Faktor Gua dan Alam
a. Banjir
b. Runtuh
Gempa
Penambangan
Umur gua
c. Gas berbahaya
O2 tipis
CO, CO2 tinggi
Nitrogen
Sulfur (biasanya banyak ditemui di gua vulkanik)
Gas rawa (pembusukan sampah dalam gua)
Asetilin/karbit
Endapan guano (bubuk mesiu karena kotoran kelelawar bereaksi dengan batu gamping)
d. Penyakit akibat virus
Histoplasma capsulatum(gejala seperti TBC disebabkan oleh
viruskelelawar)
Rabies (disebabkan oleh air liur kelelawar)
Weil(gejala demam gangguan hati dan pangkreas, disebabkan urin tikus dan kelelawa)
Mulu’ food(kutu air)
e. Binatang berbahaya
Beracun
Berbisa
Menghisap darah
Menyengat, mengigit
f. Hipotermia(Kedinginan, penurunan suhu tubuh)
Sungai bawah tanah
Angin
Tidak membawa pakaian yang memadai
Kurang kalori
g. Dehidrasi(Kekurangan cairan tubuh)
Haus yang berlebihan
Gua pengap dan panas
Udara tidak mengalir
Speleosentrime adalah bahaya yang dapat menimpa gua akibat dipergunakan sebagai media penelusur gua.
1. pengaruh terhadap bentukan didalam gua
a. pengotoran lingkungan gua
b. perusakan ornamen gua
c. perusakan oleh penambangan gua
d. perusakan system hidrologi dan kualitas airnya
2. pengaruh terhadap ekosistem gua(akibat kunjungan yang berlebihan,
suara, cahaya berlebihan dan kotoran yang masuk kedalam gua.
3. pengruh terhadap ekosistem karst
a. binatang langka terusik dari gua

VII. TEHNIK PENELUSURAN GUA
Tehnik penelusuran gua dibagi menjadi dua :
A. Tehnik Penelusuran Gua Horizontal ( TPGH )
Medan pada gua horizontal sangat bervariasi mulai dari lorong yang kering yang bisa dengan mudah ditelusuri sampai lorong yang membutuhkan tehnik khusus untuk melewatinya.
a. Lumpur
Lorong yang berlumpur dapat dilewati dengan mudah kalau Lumpur tersebut tidak terlalu tebal, tetapi dalam kondisi ketinggian Lumpur mencapai lutut atau bahkan sampai setinggi perut, kita tidak dapat melaluinya dengan mudah, kita harus bergerak dengan posisi seperti berenang. Dengan posisi seperti ini kita lebih mudah untuk bergerakdan menghemat tenaga.
b. Air
Untuk kondisi lorong gua yang berair, terutama gua yang belum pernah dimasuki, kita tidak mengetahui kedalan air dan kondisi dibawah permukaan air, untuk itu harus mengetahui prosedur dan mempunyai fasilitas mendukung. Syarat utama melewati gua berair adalah harus bisa berenang dan disini perlu kita ketahui bahwa berenang didalam gua berbeda dengan berenang dikolam renang. Dan disini kita memakai pakaian lengkap, sepatu, bahkan membawa beban yang berat. Dalam kondisi tertentu kita juga harus membawa pelampung dan perahu karet terutama yang berlorong panjang dan berair dalam.
c. Climbing
Dalam suatu penelusuran gua terkadang kita menjumpai adanya waterfall ataupun lorong yang terletak diatas kita. Untuk dapat meneruskannya penelusuran kita harus menggunakan tehnik-tehnik climbing. Seperti menggunakan pengaman sisip dan bor tebing untuk pembuatan lintas. Yang melakukan adalah leader dan kemudian diikuti anggota yang lain dengan menggunakan SRT.

B. Tehnik Penelusuran Gua Vertikal ( TPGV )




[caption id="attachment_117" align="alignleft" width="300" caption="SRT"]SRT[/caption]

SRT singkatan dari Single Rope Technique yaitu tehnik melewati lintasan vertical yang berupa satu lintasan tali. Tehnik ini dalam kegiatan caving biasanya digunakan untuk penelusuran gua – gua vertical dengan segala variasi lintasan yan disesuaikan dengan kondisi medan. Keselamatan dan kenyamanan(safety procedure) adalah prinsip utama dari tehnik ini. Peralatan yang digunakan nantinya menjadi satu kesatuan, yang masing masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri dan saling mendukung. Kenali tiap jenis alat, cara kerja dan fungsinya terlebih dahulu akan sangat membantu kita dalam penguasaan tehnik ini.



Peralatan yang digunakan :
1. Seat harnest
2. Ascender
3. Descender
4. Maillon rapid
5. Chest harnest
6. Cowstail
7. Foot loop
8. Kernmantel rope(menggunakan jenis static rope kelenturan 4-8 %)
Berdasarkan kondisi medan gua seperti tersebut diatas dan kondisi gua yang selalu gelap gulita serta bebatuan yang tajam maka untuk menelusuri gua diperlukan peralatan yang dapat mendukung penelusuran gua.
Pada dasarnya peralatan dibagi menjadi dua :
1. Personal equipment (pribadi )
a. Helm
b. Boom(Generator Carbide)
c. Alat penerangan
d. Cover all
e. Sepatu
f. Sarung tangan
g. Pelampung
h. SRT set
2. Team equipment(team)
a. Tali
b. Ladders
c. Tali pita(webbing)
d. Padding
e. Carrabiner
f. Pengaman sisip
g. Paku piton
h. Bolts
i. Hanger

“Masuklah kedalam gua dan perlakukanlah seperti museum
Setiap barang yang dipamerkan itu hidupnya amat peka terhadap gangguan.
Kehadiran anda lampu anda, dan suara anda merupakan instruksi yang asing sekali
Pergilah dan jangan tinggalkan apapun sebagai tanda
Bahkan anda pernah memasuki gua itu
Berkatilah gua dan punghuninya agar
Lestari selama-lamanya”


Sumber Dok. Mahipa


Sekedar mengingat masa yang telah lalu ada beberapa teman yang saat ini hilang koneksi alias tidak tahu keberadaanya sekarang dan ini adalah Email yang pernah mereka kirimkan kepada saya



#========================================#



Bandung, 14 Agustus 2002
Menjelang 17an, kondisi Bandung terasa lebih semarak bahkan sampai di pelosok gang, mulai banyak digelar pertandingan antar warga, yang paling menarik tentu saja sepakbola hampir semua orang didunia tahu olah raga ini, tapi disini yang dipertandingkan adalah sepak bola ibu-ibu. Angin, badai, topan campur jadi satu, seksi-seksi, cantik-cantik, seger-seger main bola lagi. Bagian hiburan dari kemerdekaan ini, melihat body-body bagus itu mainkan bola dan tetap menonjolkan karakter kewanitaannya. Kuennnnceng..

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!